Monday, 23 June 2014

Aku Terpesona


Dear..Kasih

21 Juni 2014, Sabtu pagi itu sekitar pukul 09.30 WIB, Dia berhasil membuat pipiku ini merona tuk kesekian kalinya.

Hari itu adalah hari dimana pembagian rapor para pelajar. Dan aku melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang kakak untuk mengambil rapor dari Adik perempuanku yang bernama Cindy Aprilosa (yang aku lebih senang memanggilnya dengan Cindy Sukacita, meski terkadang aku juga memanggilnya dengan gigik).

Namun, sebelum beranjak ke tempat dimana Cindy menuntut ilmu, “meski sebenarnya ilmu tak perlu dituntut”. Terdengar kabar sukacita yang membuatku tersipu, kabar dari hasil rapor keponakan perempuanku, Yemima Yonesta. Kalian boleh memanggilnya dengan Mima, yang mendapat peringkat ke 10. Horeeee!!

Yaa..aku tersipu. Sebab teringat setahun lalu, ketika aku memutuskan untuk stay di Binjai dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, pernyataan yang kulontarkan dengan Mima adalah : “Nakku, kam harus mendapat peringkat 10! Peringkat ke 10.” Lalu, ku pandang wajahnya yang menatapku ragu, meski ia menjawab: “Iya, Ude..” (Ude dibaca: tante/bibi)

Sekilas tentang Mima. Keponakanku yang satu ini lebih bersemangat mendengarkan lagu daripada duduk diam dengan sederetan buku dan pensilnya yang harus melukis tentang angka-angka (hitungan). Belum lagi dia harus bisa membaca dengan lancar. Itu membuatnya agak tertekan, kelihatan dari ekspresi wajahnya. Akan tetapi,  Mima ini cepat sekali menghapal sebuah lagu. Ketika dia mendengarkan lagu baru, terlihat wajahnya penuh konsentrasi dan damai. Lalu..setelah 2 atau 3 kali lagu itu didengarkannya, maka dia akan mulai menyanyikan lagu tersebut dengan lengkap dan benar!

Kelak suatu saat nanti kam membaca tulisan sederhana Ude ini, inilah isi hati ude setiap kali melihat perkembangan & kemajuan ndu: “Yemima, Anakku ini memang istimewa! Ude sayang sekali sama Mima. Tetap tumbuh cerdas jadi anak Tuhan yang hebat, nakku”

Lalu apa yang membuatmu tersipu, Rut?

Jelas aku tersipu.. ternyata Dia mendengarkan pernyataanku dengan Mima waktu itu, Setahun lalu. Ituloh yang aku bilang “Mima harus peringkat 10”. Dia selalu mendengarkanku, memperhatikanku. Apa gak terlena ..  sor kali awak lho wee.. :D

Lalu, sesampainya aku disekolah Cindy, terlihat suasana yang padat. Datanglah seorang Bapak menghampiriku “Motornya parkirkan ke dalam aja dek..masih muat kok” (lalu diserahkannya kartu tanda parkir). Dengan santai..aku masuk, memarkirkan motor dan berjalan menuju ruangan Cindy.

Guru Wali Kelas pun menyambut kami dengan ramah. Wajar saja, ternyata Cindy masuk dalam peringkat 10 besar dengan nilai yang tetap bagus. Yeess!!!

Sekilas tentang Cindy. Setiap orang yang pertama kali melihat adek perempuanku ini, berpikir bahwa dia adalah perempuan yang cantik, pendiam, tertutup dan pemalu. Mereka gatau aja kalau si gadis yang kelihatannya misterius ini bahkan mampu mengarahkanku soal CINTA. Can’t you believe it?!

Dia memang cantik tapi ga semisterius itu kok, cuma memang “Agak sulit disentuh”, turunan kakaknya B) hahaha..
Okeh satu lagi, mendapat peringkat 10 besar bukanlah sesuatu yang “wow” lagi buatnya. Jadi aku hanya tersenyum lebar, menyalaminya dan bilang: Congrats Cindy, kam ingatkan kalau kakak lebih suka dengan kata tingkatkan! Daripada pertahankan!?

Setelah itu kami berjalan ke parkiran hendak pulang. Mengeluarkan motor dengan agak kelimpungan karena koridor parkir semakin padat. Bahkan, ketika ingin bergerak keluar dari gerbang sekolahpun macet. Seraya menunggu, tiba-tiba mata kami berdua secara bersamaaan tertuju pada sosok 2 orang yang ada disudut gerbang sekolah. Kalian tau ada apa?

Itu...ituuuu..ituuuu ada tukang parkir!!! Dan aku tidak membawa uang sepersen pun, kawan...begitu juga dengan Cindy. Bagaimana aku membayar uang parkir ini???

Dengan kilat berdiskusi dengan Cindy, agar dia mencari seorang temannya dan minjam uang seribu rupiah. Namun, nihil! Tak ditemukan seorangpun kawan Cindy saat itu.

“gimana ini Kak?” nada tanya Cindy tersirat ketakutan

Aku diam, Heart beat fast..keringat jagung mulai nimbul di jidat, mungkin di ketek juga..ntahlah.

“Iya..bagaimana ini Tuhan? Apa yang harus kulakukan Roh Kudus? Please ajari aku. PLEASE!”

Posisi motor hampir mendekati tukang parkir tersebut. Ingin mundur berbalik arah tidak mungkin, karena dibelakang sudah mengantri motor lainnya.

Dan saat itulah.. aku merasakan angin berhembus menghapus keringat jagungku. Lalu, aku tenang. Dia mengingatkanku dengan salah satu nasihat mendiang Bapak padaku, seperti ini:
“Wanita cantik adalah wanita yang berani, nakku. Itu baru namanya Tuan Putri, Bapak.”

Setibanya giliran motor kami. Matakupun beradu pandang dengan sepasang tukang parkir ini. Dengan penuh keberanian aku mengatakan: “Pak, Bu..aku minta maaf kali ini. Aku ga bawa uang sepersen pun. Aku  minta maaf kali Pak, Bu.”
Mereka terdiam sebentar lalu saling menatap. Setelah itu menoleh kembali padaku sambil tersenyum lebar : “iya gapapa dek..silahkan lewat.”

OH..THANK YOU, GOD!

Seriuslah makin terlena kali..makin sooorrr kaliii.. terpesona awak weee dibuatNYA.
Kalau ada lagu yang berjudul “Bagi Tuhan tak ada yang mustahil” maka aku berani menulis: “Bagi Tuhan tak ada hal sepele”

Uang seribu, tukang parkir..bukankah itu sesuatu yang sering sekali kita lihat dan temui di kehidupan sehari-hari?

Aku yakin, kejadian ini terjadi sebagai hadiah untukku, jadi ketika aku mengungkapkan kepada sesama bahwa aku adalah seorang yang suka dengan kata apa adanya, biarkan mengalir namun tetap maksimal. Namun, Jarang yang mengatakan “Ya aku paham maksudmu, Rut” jadi..itu tidak terlalu penting lagi sekarang, karena aku cukup menceritakan dengan singkat tentang kejadian ini, maka setiap telinga yang mendengar kejadian ini mereka akan teringat bahwa “Setialah pada perkara kecil ”, jadi..mereka akan mengatakan “Ya aku paham maksud Tuhan, Rut.”

Apakah kalian benar-benar mengerti apa yang ku bicarakan dalam tulisan ini?
Kalau iya, ada berapakah jumlah kata “JADI” (yang berimbuhan/tidak) dalam pembicaraan kita ini?
kalau tidak, mari hitung lagi dengan membaca kembali. ^_^

Sampai malam aku masih tetap tersenyum sipu atas perbuatanNya padaku.  Dia penuh kejutan, Dia memperhatikanku, perduli denganku, mendengarkan, membimbingku dan yang pasti Dia sosok paling romantis yang ku miliki.

Aku percaya, saat ini Dia sedang mengamatiku dan mengamatimu.

“Bapa, yang bersama denganku seumur hidup nanti adalah yang mengasihimu lebih dari apa pun. Mau terus belajar dariMu untuk memperhatikan, perduli dan membimbing. Juga ajari dia untuk memberi kejutan padaku dan bersikap romantis sepertiMu, boleh ya Bapa? Amin.” (Semoga yang ini juga di bacaNya..ekh enggak “semoga” deng. Tapi pasti dibacaNYA.)

Ku tutup tulisan ini dengan mengutip penggalan dari sebuah lagu.
KAU UBAHKAN HIDUPKU
"Sungguh KAU mempesona..S'gala perbuatanmu, Hapuskan raguku"  
*pam pam param pam pam..!!



Salam penuh kasih dariku.